Selain Stunting, TBC Jadi Isu Kesehatan yang Disorot Ganjar-Mahfud

oleh -11 Dilihat
oleh
selain stunting tbc jadi isu kesehatan yang disorot ganjar mahfud f33a610

bacadisini.web.id.com, Dr Drippa Sajapana M.Kes dari Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ketiga Istri Calon Presiden dan Wakil Presiden DKI Jakarta, Ganjar mengatakan, selain syok, tuberkulosis atau TBC juga menjadi masalah kesehatan. Perhatian. Pranowo dan Mahfud MD

Jika Ghanjar-Mahfoud terpilih sebagai presiden dan wakil presiden. Penting bagi Ghanjar-Mahfoud untuk mengatasi kedua masalah kesehatan ini.

“Bersikap tenang terhadap TBC adalah dua masalah besar yang harus kita atasi. Kita ingin melakukan pencegahan karena tuberkulosis penting untuk dideteksi sejak dini,” kata Dripa Sajjabana dalam perbincangan publik bersama tim sukses capres-cawapres.

Salah satu upaya untuk mengidentifikasi dan mengendalikan kasus tuberkulosis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberkulosis adalah program penting Ganjar-Mahfoud; 1 desa 1 alat penunjang kesehatan; 1 tenaga kesehatan dan 10 juta skema perumahan.

Dripa mengatakan, dirinya akan memiliki kader pendukung TBC untuk mengurus pasangan Ganjar-Mahfud jika terpilih menjadi presiden dan wakil presiden pada pemilu 2024.

Tim calon presiden dan wakil presiden lainnya juga hadir untuk membahas upaya pengendalian TBC. Dr Ganis Irawan, Dewan Pakar Tim Nasional Anies-Muhaimin (AMIN), mengatakan, fokus SpPD adalah pada upaya advokasi dan pencegahan penanggulangan tuberkulosis.

Sementara itu, Prabow-Gibran mengatakan Partai Kemenangan Nasional (TKN) kemungkinan besar akan membentuk lembaga anti tuberkulosis jika menang.

Oleh karena itu, Presiden Menteri “Sangat mungkin untuk membentuk badan anti tuberkulosis nasional mulai dari TNI hingga tingkat masyarakat,” kata Dewan Pakar Kesehatan. “Siapa pun yang menang, kita harus bersama-sama mengakhiri TBC.” Benjamin P. Octavianus, Kelompok Kemenangan Nasional Prabow-Gibran; SpP

Setelah acara tersebut, Ketiga tim calon presiden dan wakil presiden yang sukses bersama-sama berjanji untuk mengakhiri tuberkulosis pada tahun 2030.

Ada 3 bidang pilihan bagi masyarakat Indonesia: keterlibatan bermakna komunitas penderita TBC dalam upaya pengendalian TBC; Memprioritaskan pendanaan TBC pada sektor politik dan kesehatan di tingkat nasional dan regional. Mempromosikan akses terhadap layanan TBC yang berkualitas dan spesifik gender di fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta.

Nurul Nadia H.W.Luntungan, presiden End Tuberculosis Partnership Foundation Indonesia, mengatakan Indonesia memiliki beban tuberkulosis tertinggi kedua di dunia. Pada tahun 2023, masih akan terdapat ratusan orang yang tertular di masyarakat tanpa mengetahui status TBCnya.

“Masih ada masyarakat yang terdiagnosis TBC namun tidak mendapat pengobatan,” kata Nurul. Mungkin karena kurangnya pengetahuan tentang TBC atau karena stigma dan diskriminasi.”

Nurul mengatakan kepada ketiga kelompok tersebut, siapa pun bisa memberantas TBC pada pemilu 2024.

Kerja sama; Nurul mengatakan hanya dengan kepemimpinan yang kuat dan investasi yang berdampak serta kerja sama multisektor, Indonesia dapat mencapai perjuangan melawan TBC pada tahun 2030.

 

Pada saat yang sama, Erlina Burhan, konsultan paru RS Persahabatan Jakarta yang mendalami tuberkulosis, turut hadir. Ia mengatakan siapa pun yang menjadi presiden bisa fokus pada masalah tuberkulosis di Indonesia.

“Kami berharap masyarakat Indonesia memberikan perhatian khusus terhadap penyakit tuberkulosis yang diakui dan dipercaya. “Fokus pada TBC dan lakukan yang terbaik untuk memberantasnya pada tahun 2030,” kata Erlina.

Tuberkulosis bukan hanya masalah medis, tegas dokter spesialis TBC. Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun sebagai dokter, banyak sekali permasalahan kesehatan yang disebabkan oleh TBC.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.