1 Ramadhan Muhammadiyah Tanggal 11 Maret 2024, Ini Prediksi dari Pemerintah

oleh -8 Dilihat
oleh
1 ramadhan muhammadiyah tanggal 11 maret 2024 ini prediksi dari pemerintah a5d2020

bacadisini.web.id.com, Jakarta – Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan tahun 2024 jatuh pada Senin, 11 Maret. Keputusan ini diambil berdasarkan metode penghitungan sebenarnya bentuk bulan baru, yang memperhitungkan pergerakan matahari dan bulan sebenarnya.

Sebelumnya pada 10 Maret, Muhammadiyah memberitakan bahwa bulan terlihat di atas ufuk saat matahari terbenam di Yogyakarta, membenarkan awal bulan Ramadhan.

Meski Muhammadiyah telah menetapkan tanggal 1 Ramadhan pada 11 Maret, namun pemerintah Indonesia mengacu pada sidang isbat untuk menentukan awal bulan Ramadhan. Sidang isbat yang dilaksanakan setiap tanggal 29 Syaban ini dijadwalkan pada Minggu, 10 Maret 2024.

Diumumkan bahwa Pemerintah Indonesia akan menetapkan awal Ramadhan pada hari Selasa, 12 Maret 2024, 1445 H.

Berikut bacadisini.web.id.com ulasan selengkapnya mengenai keputusan pemerintah dan Muhammadiyah pada 1 Ramadhan 2024, Kamis (18/1/2024).

Muhammadiyah menetapkan awal Ramadhan 1445 pada tanggal 11 Maret 2024 berdasarkan perhitungan kunci bentuk hilal yang dipandu oleh Tarjih dan Tajdid. Pada hari Kamis, 18 Januari 2024, PP Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menyatakan: “Di wilayah Indonesia, Senin 1 Ramadhan 1445 H jatuh di Pahing, 11 Maret 2024.”

Penetapan tersebut berdasarkan pengamatan hilal di Yogyakarta pada 10 Maret 2024 saat hilal terlihat di atas ufuk saat matahari terbenam.

Menurut sumber tersebut, Muhammadiyah menyatakan ijtimak menjelang Ramadhan 1445 H terjadi pada tanggal 29 Syaban 1445 H atau tepatnya 10 Maret 2024. Saat itu, bulan terlihat di atas ufuk Yogyakarta saat matahari terbenam. Meski penetapan ini berlaku umum, namun beberapa wilayah seperti Maluku Utara, Papua, Papua Barat, dan Papua Barat Daya akan bisa melihat bulan saat matahari terbenam. 1 Syawal Muhammadiyah Ditetapkan 10 April 2024

Selain menetapkan awal Ramadhan 1, Muhammadiyah juga menetapkan tanggal penting lainnya yakni Idul Fitri 1445 H. Dalam surat yang sama disebutkan bahwa Idul Fitri (1 Syawal 1445 H) akan jatuh pada hari Rabu. , pada tanggal 10 April 2024 .Ijtimak sebelum Syawal 1445 H terjadi pada tanggal 9 April 2024 pukul 01.23.10 WIB.

Surat tersebut berbunyi: “Di wilayah Indonesia, 1 Syawal 1445 Hijriah akan jatuh pada hari Rabu, 10 April 2024. Hal ini menandakan akan terlihat bulan Syawal, dan Idul Fitri Muhammadiyah dijadwalkan pada 10 April 2024. “

Dalam penetapan Idul Fitri 2024, PP Muhammadiyah menyatakan pada tanggal 9 April 2024 di Yogyakarta ketinggian bulan +06° 08′ 28″ dengan bulan berada di atas ufuk. Inilah penampakan hilal pada tanggal 10 April 2024 yang menjadi acuan penentuan awal bulan Syawal.

Jadwal lengkap ini memberikan panduan bagi umat Islam Muhammadiyah dalam merencanakan ibadah dan perayaannya selama bulan Ramadhan dan Idul Fitri 2024.

Merujuk pada Kalender Hijriah Indonesia 2024 yang diterbitkan Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), pemerintah Indonesia menetapkan awal Ramadhan 1445 H pada hari Selasa, 12 Maret 2024. Perbedaan ini menunjukkan kemungkinan terjadinya perbedaan. tahun ini awal puasa antara muhammadiyah dan pemerintah.

Namun pemerintah akan menggelar sidang isbat pada Minggu, 10 Maret 2024 untuk menetapkan resmi dimulainya 1 Ramadhan. Sidang Isbat ini menjadi acuan resmi penentuan tanggal-tanggal penting dalam penanggalan Islam.

Referensi Pengumuman Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Oman Fathurahman, Kamis (18/01/2024) di laman resmi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Muhammadiyah dan pemerintah akan dimulai. pada tanggal Ramadhan yang berbeda. Perbedaan Cara Penghitungan Muhammadiyah dan Pemerintahan

Pada tahun 2024 atau 1445 Hijriyah, Muhammadiyah akan menetapkan Ramadhan pada hari Senin, 11 Maret 2024, sedangkan pemerintah menetapkannya pada hari Selasa, 12 Maret 2024. Perbedaan tersebut disebabkan oleh cara perhitungan yang berbeda, dimana pemerintah masih menggunakan Imkanur Rukyah 2. -metode derajat, sedangkan Muhammadiyah menggunakan metode untuk menghitung kemunculan hilal.

Oman Fathurahman yang juga Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta menjelaskan, perbedaan tersebut terkait dengan metode perhitungan yang diterapkan masing-masing pihak.  Metode dasar penghitungannya meliputi penghitungan gerak benda langit, terutama matahari dan bulan sebenarnya, untuk mendapatkan posisi bulan seakurat mungkin.

Keputusan pemerintah mengenai awal bulan baru dengan prinsip Imkanur Rukyah 2 derajat didasarkan pada kondisi tertentu, seperti kesejajaran bulan dan matahari serta posisi bulan saat terbenam. Kriteria ini harus dipenuhi untuk memastikan alokasi yang tepat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.