Suku Bunga BI Naik Lagi, Daya Beli Masyarakat Ambruk hingga Potensi Kredit Macet Meningkat

oleh -89 Dilihat
oleh
suku bunga bi naik lagi daya beli masyarakat ambruk hingga potensi kredit macet meningkat 9d28b78

bacadisini.web.id.com – Bank Indonesia (BI) juga menaikkan 7-day Reverse Repo Rate sebesar 50 bps menjadi 4,75 persen.

Keputusan ini diambil usai menggelar Rapat Dewan Direksi Bank Indonesia (GBM) pada 19-20 Oktober 2022. Kenaikan suku bunga ini tidak berdampak pada kondisi perekonomian dalam negeri.

Bapak Ajib Hamdani, Ketua Komite Analisis Kebijakan Ekonomi Apindo, mengatakan ada dampak negatif dari pemerintah pusat yang menaikkan suku bunga.

“Inflasi didorong oleh suku bunga. Namun risikonya adalah perlambatan ekonomi. Pasar dan daya beli masyarakat akan menurun,” kata Ajib di Jakarta, Kamis (20/10/2022).

Menurut dia, risiko lainnya adalah meningkatnya kredit macet. Kenaikan suku bunga ini juga akan meningkatkan suku bunga pinjaman.

“Jika pemerintah tidak membuat program pengurangan utang berupa restrukturisasi tambahan.

Tak hanya itu, kebijakan moneter ini cenderung menimbulkan kesan negatif terhadap kelanjutan pertumbuhan ekonomi.

“Bisnis mengharapkan percepatan belanja pemerintah pada kuartal terakhir tahun 2022 untuk memberikan kekuatan dan investasi yang lebih besar sesuai dengan target.”

Sebelumnya, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diselenggarakan pada 19-20 Oktober 2022 memutuskan untuk menaikkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 4,75 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 4 persen. Selain itu, suku bunga Fasilitas Kredit juga dinaikkan menjadi 5,5 persen.

Menurut dia, keputusan kenaikan suku bunga merupakan langkah yang menjanjikan, menjanjikan, dan menjanjikan untuk meredam ekspektasi inflasi yang saat ini terlalu tinggi (terlalu tinggi).

“Selanjutnya, untuk memastikan inflasi ke depan kembali sesuai target yang ditetapkan sebesar 3 persen atau minus 1 persen pada paruh pertama tahun 2023,” ujarnya.

Perry menambahkan, kenaikan suku bunga ini untuk memperkuat kebijakan stabilisasi guna menyelaraskan nilai tukar rupee dengan nilai dasarnya akibat kenaikan mata uang dolar AS.

“Selain itu, masih tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global di tengah meningkatnya permintaan perekonomian domestik yang masih kuat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.